VIVAnews - Kerusuhan yang terjadi selepas pertandingan Mesir kontra Algeria di Kualifikasi Piala Dunia 2010 berbuntut panjang. Kali ini Presiden Mesir Hosni Mubarak bersumpah, siapa pun yang menyentuh warga negaranya di luar negeri tidak akan ditoleransi.
Berbicara di depan TV Nasional, Mubarak mengecam tindak kekerasan pada warganya. Dengan dukungan dan warga dan anggota Parlemen, Mubarak juga sudah memanggil pulang Duta Besarnya untuk Algeria.
"Saya ingin menjelaskan kalau harga diri orang Mesir adalah bagian dari Mesir," ujar Mubarak seperti dilansir Shanghai Daily, Minggu 22 November 2009.
"Mesir tidak memberi toleransi bagi mereka yang melukai harga diri putra-putranya," jelasnya lagi.
Kerusuhan Mesir-Algeria terjadi pada 18 November 2009, di Al Merreikh Stadium, Omdurman (Sudan). Laga kedua negara itu harus dilakukan untuk menentukan siapa juara Grup D di Zona Afrika. Pasalnya kedua negara imbang dari sisi agregat gol, jumlah kemenangan, dan beberapa indikator hak sebuah negara untuk bisa lolos ke Piala Dunia.
Kedua negara diharuskan memilih satu negara netral sebagai venue partai yang disebut Tiebreaking play-off itu. Terpilihlah Sudan sebagai venue netral.
Sebelum pertandingan dimulai, tensi pertandingan sudah memanas. Bus pemain Algeria diserang fans tuan rumah. Sebanyak tiga pemain terluka, dua di antaranya bahkan bermain dengan perban di kepala.
Malang bagi Mesir, serangan itu malah melecut Algeria tampil lebih baik. Tim Negeri Piramid kalah 0-1. Sebagai bentuk balasan, fans Algeria menyerang perkantoran milik Mesir di Algeria. Membuat ratusan warga Mesir tak berani keluar rumah.
"Kami tidak akan bereaksi atas reaksi impulsif. Saya tergoda untuk melakukannya, tapi saya menahan diri," kata Mubarak lagi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





















0 komentar:
Posting Komentar